Fenomena ini bisa terjadi di organisasi perusahaan manapun dan terkadang tidak dapat dihindarkan. Jika kondisi tersebut terjadi terus-menerus tanpa adanya pemecahan, maka dampak yang ditimbulkan bisa fatal untuk kesehatan dan ingin terus berhenti bekerja. Pengetahuan tentang stres di lingkungan kantor perlu dipahami oleh pemilik perusahaan hingga lingkungan manajemen organisasi perusahaan. Dengan demikian, perusahaan dapat melakukan tindakan-tindakan pencegahan agar dampak buruknya tidak terjadi. Kondisi tersebut pada umumnya ditandai dengan beragam situasi seperti, kondisi emosional yang tidak stabil, merasa cemas, tegang dan gugup, lalu menarik diri dari lingkungan sekitar.
Faktor Penyebab Karyawan Mengalami Working Stress
Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab working stress. Penyebab tersebut terbagi menjadi 3 faktor, antara lain kondisi kerja, konflik peran, serta pengembangan karier. Simak penjelasan selengkapnya berikut ini:
1. Kondisi Kerja
Faktor penyebab terjadinya tekanan pekerjaan yang dirasakan oleh karyawan yaitu dipengaruhi kondisi kerja. Lingkungan perusahaan yang buruk berpotensi memicu pekerja cepat lelah, semangat kerja semakin berkurang dan mengalami stres. Disamping itu, beban kerja terlalu berat dan melebiihi kapasitasnya tentu akan membuat karyawan lebih mudah tertekan. Disamping itu, beban kerja terlalu berat dan melebihi kapasitasnya tentu akan membuat karyawan lebih mudah tertekan. Budaya kerja di lingkungan organisasi yang tidak suportif juga dapat memicu working stress.
2. Konflik Peran
Faktor penyebab lain dari working stress adalah adanya konflik peran. Konflik peran yaitu adanya pemberian peran yang tumpang tindih kepada karyawan. Keadaan tersebut kerap terjadi di perusahaan dengan jumlah anggota sangat besar. Selain itu, konflik peran juga terjadi pada perusahaan yang tidak memiliki struktur keorganisasian jelas. Konflik peran menyebabkan karyawan merasa tertekan karena peran mereka dalam bekerja serta ekspektasi manajemen tidak jelas.
3. Pengembangan Karier
Semua orang yang bekerja di suatu perusahaan tentunya menginginkan prestasi bersinar serta peningkatan karier. Sayangnya keinginan tersebut belum tentu bisa terwujud karena berbagai faktor. Misalnya tidak adanya kejelasan mengenai sistem pengembangan karier, penilaian prestasi kerja, hingga praktik nepotisme dalam organisasi. Gagalnya mewujudkan kenaikan jabatan bisa memicu tekanan kerja karyawan.
Dampak Jika Karyawan mengalami Working Stress
Terdapat beberapa dampak negatif yang diakibatkan oleh working stress. Baik itu di level individu, tim, hingga perusahaan. Berikut ini beberapa dampak buruknya:
1. Dampak Individu
Dampak individu karyawan, antara lain kecemasan, ketakutan, tidak bisa mengendalikan emosi, depresi, kelelahan, tingkat percaya diri yang rendah hingga apatis.
2. Dampak Kognitif
Working stress mengakibatkan karyawan tidak mampu membuat keputusan strategis, daya konsentrasi mengalami penurunan, tidak dapat menghadapi kritik dengan baik..
3. Dampak Terhadap Kesehatan Fisik
Working stress juga mengakibatkan tekanan darah meningkat, bola mata melebar, mengalami gangguan saluran pencernaan, mudah berkeringat, hingga kandungan gula dalam darah meningkat.
4. Dampak Terhadap Organisasi Perusahaan
Dampak terhadap organisasi, antara lain meningkatkan pekerja absen, produktivitas menurun, kehilangan omset, kredibilitas di mata mitra menurun, hingga berkurangnya loyalitas..
Strategi
Untuk Mengelola Stres di Tempat Kerja
1. Batasi Kafein
Kafein termasuk dalam kelompok obat yang disebut stimulan sistem saraf pusat (SSP). Meskipun dapat membantu memulihkan kewaspadaan saat lelah, kafein menghambat penyerapan adenosine atau zat kimia yang menenangkan tubuh. Ini membuat lebih tegang dan waspada, dan juga dapat menyebabkan masalah tidur dan meningkatkan tingkat stres. Demikian pula, kafein dapat meningkatkan kadar kortisol yang disebut dengan hormon stres.
2. Cobalah Berolahraga Secara Teratur
Penelitian menunjukkan bahwa olahraga seperti aerobik yang dilakukan rutin berhubungan dengan penurunan aktivitas saraf simpatik dan hypothalamic-pituitary-adrenal. Aktivitas saraf simpatik dan hyphothalamic-pituitari-adrenal adalah sistem tubuh yang bertanggung jawab untuk merespon stres dan menimbulkan perubahan fungsi tubuh akibat stres. Olahraga terartur juga dapat menurunkan kadar kortisol dalam tubuh. Dan juga olahraga dapat menimbulkan hormon endorphin atau hormone bahagia.
3. Perbanyak Waktu Istirahat Tidur
Tidur merupakan proses fisiologis yang penting bagi manusia. Kurangnya tidur berdampak serius terhadap kesehatan. Secara fisik, kurang tidur berpotensi meningkatkan risiko pra hipertensi dan hipertensi orang dewasa. Secara mental, kurang tidur dapat menyebkan stres. Dapat dikatakan terdapat hubungan timbal balik antara tidur dengan stres. Stres dapat menyebabkan kurang tidur, dan sebaliknya kurang tidur dapat menyebabkan stres. Hal ini terjadi karena pada dasarnya pengaturan tidur, perilaku, dan emosi saling berkaitan. Tidur yang singkat meningkatkan hormon stres, dan perubahan hormon tersebut menghambat tidur. Memperbaiki tidur menjadi salah satu langkah pertama untuk menurunkan tingkat stres secara keseluruhan. Ide bagus termasuk mengurangi paparan cahaya biru dari perangkat elektronik, berolahraga setelah bekerja, dan tidur lebih awal.
4. Buat Jurnal Stres
Jurnal stres dapat membantu Anda memahami pemicu dari stres yang Anda alami. Dan juga dapat membantu Anda mengendalikan stres dan mengembangkan mekanisme koping atau mekanisme pengendalian stres yang cocok untuk Anda.
5. Coba Komunikasikan Pada Rekan Kerja atau Tenaga Profesional
Tidak ada yang bisa menghadapi stres dan kecemasan sendirian. Jika Anda mengalami stres berat ditempat kerja, bicaralah dengan rekan kerja, atasan Anda, atau perwakilan SDM untuk mencari solusi. Jangan pernah takut untuk mencari bantuan professional. Karena setiap orang berhak bahagia dan bebas dari stres.
Yuk kita simak artikel Emi-Ducation lainnya!

