Menurut American Lung Association, daripada mengambil napas cepat dan dangkal, teknik pernapasan terbaik untuk berlari adalah pernapasan diafragma dan pernapasan dalam perut. Selain itu, salah satu pendekatan pernapasan yang paling berhasil selama berlari adalah dengan menggunakan Rhythmic Breathing.
Rhythmic Breathing
Pernapasan berirama tidak hanya membantu memastikan mekanisme pernapasan seimbang saat berlari, membantu mencegah hiperventilasi atau perasaan seperti terengah-engah, tetapi juga dapat mengurangi stres pada tubuh.
Rhythmic Breathing merupakan teknik yang sukses untuk pelari karena :
- Dengan menggunakan otot pernapasan saat menarik napas (inhale) dan relax saat menghembuskan napas (exhale), kita membutuhkan lebih banyak usaha dan waktu untuk mengisi paru-paru daripada yang dibutuhkan untuk menghembuskan napas, sehingga membuat kita lebih sadar akan perlunya waktu yang lebih lama untuk menghirup oksigen yang dibutuhkan untuk olahraga intensitas tinggi seperti lari.
- Rhythmic breathing mengurangi tekanan pada diafragma dan menyeimbangkan tekanan benturan antara kedua sisi tubuh.
Untuk melatih pernapasan berirama, ingatlah untuk menggunakan pernapasan perut dan pola 5 langkah: 3 langkah saat Anda menarik napas dan 2 langkah saat Anda mengeluarkan napas (saat melangkah: tarik napas ke kiri, kanan, kiri; hembuskan ke kanan, kiri, kanan; tarik napas ke kiri , kanan, kiri; buang napas kanan, kiri, kanan). Ini secara alami akan mengubah pernapasan sehingga tidak memengaruhi kaki yang sama saat menarik napas berulang kali, mengurangi tekanan pada diafragma dan tubuh selama berlari.

Jika berlari lebih cepat, dapat menggunakan pola 2:1. Artinya, tarik napas setiap 2 langkah, dan hembuskan setiap 1 langkah. Jika mengikuti Rhythmic breathing terasa terlalu rumit, cukup perhatikan napas anda untuk mengetahui bagaimana ritme yang nyaman.

